Suasana jalanan The Woodlands Parkway di Texas yang tertutup salju tebal pada Senin (15/2). (AP/Brett Coomer)
Houston, CNN Indonesia --
Senin biasanya menjadi hari penuh semangat untuk memulai minggu. Tapi pada Senin pekan ini saya dan warga kota Houston di Texas, lainnya harus memulai hari dengan suhu -9 derajat Celcius.
Sejak Jumat (12/2), Houston mengalami cuaca dingin yang ekstrem. Puncaknya Senin (15/2) saat suhu mencapai -9 derajat Celcius. Di hari-hari hari-hari berikutnya sekitar 0 derajat Celcius.
Langit abu-abu, angin bertiup kencang, tumpukan salju menebal, menjadi pemandangan utama yang tidak biasa dari kawasan tempat saya tinggal, Houston, hingga ke penjuru Texas lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cuaca dingin yang ekstrem bukan pengalaman baru bagi saya, seperti ketika berkunjung ke Boston yang notabene lebih dekat ke Kutub Utara. Tapi kondisi tersebut amatlah berbeda jika sudah ada kesiapan infrastruktur yang mumpuni. Mati listrik dan mati air saat cuaca dingin ekstrem seperti yang saat ini terjadi di Texas lebih membuat deg-degan.
Di Amerika Serikat sendiri, suhu di kota-kota pesisir timur seperti Boston, New York City, dan Washington DC sebenarnya cenderung lebih rendah dari Houston di saat musim dingin. Namun infrastruktur mereka bisa dibilang lebih memadai dan lebih siap untuk menghadapi momen tahunan tersebut.
Salju dan cuaca dingin yang ekstrem bisa dibilang kejadian langka di Texas. Oleh karena itu, para pelaku bisnis di industri kelistrikan merasa tidak terlalu menguntungkan jika harus membangun kapasitas tambahan yang hanya akan terpakai ketika cuaca ekstrem datang.
Ditambah lagi, Texas memiliki jaringan kelistrikan yang mandiri, sehingga tidak dimungkinkan untuk meminjam listrik dari negara bagian tetangga di saat ada lonjakan permintaan seperti saat ini.
KJRI Houston sebenarnya menyediakan tempat penampungan bagi WNI yang memerlukannya. Namun area KJRI Houston pun sempat mengalami pemadaman listrik dan air, sehingga ada pemberitahuan bahwa layanan publik ditutup sementara pada Selasa (16/2).
Untuk bantuan lebih lanjut, WNI diarahkan ke layanan publik 211, 311, dan 911. Di saat yang sama, pemerintah Amerika Serikat juga mulai menggelontorkan bantuan kemanusiaan bagi warga di area yang terdampak parah.
Suasana kota Houston di Texas, Amerika Serikat, saat cuaca dingin ekstrem melanda pada Senin (15/2). (Arsip Sastya Dayu)
Bertahan hidup
Warga Houston biasanya sudah punya persiapan standar untuk situasi darurat, seperti lilin, korek api, makanan kaleng, sampai air minum botolan. Karena di luar badai salju yang sekarang melanda, negara bagian ini rentan terlewati badai tropis di sekitar pertengahan tahun
Memastikan power bank dan bensin mobil dalam kondisi penuh adalah hal lain yang bisa dipersiapkan. Tidak kalah penting, saling terhubung dengan teman dan anggota keluarga untuk mengecek kondisi masing-masing juga wajib dilakukan.
Di tengah cuaca ekstrem ini, teman-teman saya yang mempunyai anak kecil memilih mengungsi ke hotel, dengan asumsi adanya generator listrik dan pasokan air. Sejak Selasa (16/2) sudah banyak hotel yang penuh.
Tidak adanya listrik sejak hari Senin membuat kami yang bertahan di rumah tak bisa menyalakan penghangat ruangan dan memasak karena kompor di sini kebanyakan bertenaga listrik. Aliran air untuk konsumsi dan mandi juga terhambat karena pipa yang beku.
Semua tempat yang masih bisa buka menjual makanan sarat dengan antrean panjang. SPBU juga banyak yang tutup atau habis persediaan. Jika masih ada yang buka, hanya menjual bensin dengan oktan yang paling tinggi dan mahal.
Mau keliling kota naik kendaraan bermotor untuk mencari persediaan makanan atau bahan bakar juga bisa dibilang berbahaya, karena jalanan beku oleh es yang licin. Jarangnya musim dingin datang ke Houston membuat warga di sini tak menyiapkan kendaraannya dengan alat khusus, seperti roda bergerigi atau rantai ban.
Pada hari Selasa saya memutuskan mengungsi ke rumah teman saya. Saat itu rumahnya masih dialiri listrik, meski tak ada air, lumayan untuk menghangatkan makanan. Tak berapa lama, aliran listrik di rumahnya terputus karena ada pemadaman bergilir. Kami lalu bertahan dengan jaket dan selimut tebal di dalam rumah.
Keesokan harinya ada pemberitahuan kalau aliran air keran tak bisa diminum langsung untuk sementara waktu. Warga yang punya kompor api langsung mengumpulkan air dari tetesan hujan dan salju di luar untuk direbus dan diminum, juga untuk keperluan kamar mandi. Yang lebih mengkhawatirkan, supermarket mulai kehabisan stok air bersih dan bahan makanan.
Hari Kamis kondisi terbilang cukup melegakan. ERCOT, perusahaan pengelola listrik di Texas, mulai menstabillkan pengaliran listrik dan meniadakan pemadaman bergilir, termasuk di area apartemen saya.
Saat ini, Sabtu (20/2), kondisi saya terbilang aman dan stabil. Saya sudah kembali ke apartemen dan sudah bisa kembali masak dan beraktivitas seperti biasa.
Surat dari Rantau masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Saya tinggal di Texas dalam rangka melanjutkan studi S2 di Rice University jurusan Master of Energy Economics. Sekarang saya sedang kerja praktek di salah satu perusahaan konsultan di Houston.
Tertarik dengan manajemen bidang energi dan pengembangan diri menjadi alasan saya kuliah lagi di sini.
Sebelum ke Texas, saya lulus dari jurusan Manajemen dan Bisnis di ITB dan sempat bekerja di salah satu perusahaan energi di Jakarta.
Setelah banyak mencari informasi, bidang S2 yang saya ingin jajal hanya ada di dua universitas; University of Aberdeen di Skotlandia dan Rice University di Houston, Texas.
Selain karena peringkat universitas yang lebih baik, saya memilih universitas di Texas karena keekonomian rasanya lebih cocok dipelajari di Amerika Serikat, negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Houston pun merupakan pusatnya industri energi dunia.
Di pesisir timur ada New York City yang dikenal dengan suasana kotanya yang selalu sibuk, sementara di pesisir barat ada Los Angeles yang lebih santai dan glamor. Houston yang identik dengan 'kota koboi' berada di tengah dan bisa dibilang mempunyai karakter unik tersendiri.
Warga lokal maupun pendatang yang saya kenal rata-rata berkarakter ramah dengan siapa saja. Banyak dari mereka yang sukses dalam hal pendidikan dan pekerjaan, tapi tetap rendah hati.
Makanan di sini juga beragam dan enak-enak! Istilah 'everything is bigger in Texas' yang bukan sekedar slogan, juga biaya hidup yang lebih terjangkau dibandingkan New York City dan Los Angeles membuat hidup di sini lebih nyaman menurut saya.
Suasana kota Houston di Texas, Amerika Serikat, saat cuaca dingin ekstrem melanda pada Senin (15/2). (Arsip Sastya Dayu)
Tips merantau ke luar negeri
Saat pertama kali datang ke Houston saya tak mengenal siapa-siapa. Tapi momen tersebut saya anggap sebagai latihan pendewasaan diri, sehingga saya membuka diri untuk berbincang dengan teman baru dari berbagai latar belakang. Alhasil saat ini saya cukup punya banyak teman mancanegara selain WNI yang juga merantau ke sini.
Kasus rasial dan pelecehan masih terjadi Texas dan di Amerika Serikat pada umumnya, namun saya bersyukur belum pernah mengalami hal tersebut.
Di tempat kerja saya, kasus rasial dan pelecehan akan ditanggulangi dengan serius. Karyawan bisa langsung melapor ke HRD dan sanksinya bisa sampai pemutusan hubungan kerja.
Bagi pembaca CNNIndonesia.com yang ingin merantau ke luar negeri, saya sarankan untuk selalu terbuka dengan kesempatan baru, bangun jaringan pertemanan seluas-luasnya, sehingga semakin banyak ilmu di luar tempat kuliah atau tempat kerja yang didapat.
Tak ada kata terlambat untuk keluar dari zona nyaman. Pun selalu jaga diri dan pintar membaca situasi.
Ketika baru mulai merantau ataupun saat sudah nyaman, jangan pernah lupakan asal muasal kita sebagai orang Indonesia dan pengamalan ilmu kita untuk kemajuan Tanah Air.
---
Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, silakan hubungi [email protected]
Houston, CNN Indonesia --
Senin biasanya menjadi hari penuh semangat untuk memulai minggu. Tapi pada Senin pekan ini saya dan warga kota Houston di Texas, lainnya harus memulai hari dengan suhu -9 derajat Celcius.
Sejak Jumat (12/2), Houston mengalami cuaca dingin yang ekstrem. Puncaknya Senin (15/2) saat suhu mencapai -9 derajat Celcius. Di hari-hari hari-hari berikutnya sekitar 0 derajat Celcius.
Langit abu-abu, angin bertiup kencang, tumpukan salju menebal, menjadi pemandangan utama yang tidak biasa dari kawasan tempat saya tinggal, Houston, hingga ke penjuru Texas lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cuaca dingin yang ekstrem bukan pengalaman baru bagi saya, seperti ketika berkunjung ke Boston yang notabene lebih dekat ke Kutub Utara. Tapi kondisi tersebut amatlah berbeda jika sudah ada kesiapan infrastruktur yang mumpuni. Mati listrik dan mati air saat cuaca dingin ekstrem seperti yang saat ini terjadi di Texas lebih membuat deg-degan.
Di Amerika Serikat sendiri, suhu di kota-kota pesisir timur seperti Boston, New York City, dan Washington DC sebenarnya cenderung lebih rendah dari Houston di saat musim dingin. Namun infrastruktur mereka bisa dibilang lebih memadai dan lebih siap untuk menghadapi momen tahunan tersebut.
Salju dan cuaca dingin yang ekstrem bisa dibilang kejadian langka di Texas. Oleh karena itu, para pelaku bisnis di industri kelistrikan merasa tidak terlalu menguntungkan jika harus membangun kapasitas tambahan yang hanya akan terpakai ketika cuaca ekstrem datang.
Ditambah lagi, Texas memiliki jaringan kelistrikan yang mandiri, sehingga tidak dimungkinkan untuk meminjam listrik dari negara bagian tetangga di saat ada lonjakan permintaan seperti saat ini.
KJRI Houston sebenarnya menyediakan tempat penampungan bagi WNI yang memerlukannya. Namun area KJRI Houston pun sempat mengalami pemadaman listrik dan air, sehingga ada pemberitahuan bahwa layanan publik ditutup sementara pada Selasa (16/2).
Untuk bantuan lebih lanjut, WNI diarahkan ke layanan publik 211, 311, dan 911. Di saat yang sama, pemerintah Amerika Serikat juga mulai menggelontorkan bantuan kemanusiaan bagi warga di area yang terdampak parah.
Suasana kota Houston di Texas, Amerika Serikat, saat cuaca dingin ekstrem melanda pada Senin (15/2). (Arsip Sastya Dayu)
Bertahan hidup
Warga Houston biasanya sudah punya persiapan standar untuk situasi darurat, seperti lilin, korek api, makanan kaleng, sampai air minum botolan. Karena di luar badai salju yang sekarang melanda, negara bagian ini rentan terlewati badai tropis di sekitar pertengahan tahun
Memastikan power bank dan bensin mobil dalam kondisi penuh adalah hal lain yang bisa dipersiapkan. Tidak kalah penting, saling terhubung dengan teman dan anggota keluarga untuk mengecek kondisi masing-masing juga wajib dilakukan.
Di tengah cuaca ekstrem ini, teman-teman saya yang mempunyai anak kecil memilih mengungsi ke hotel, dengan asumsi adanya generator listrik dan pasokan air. Sejak Selasa (16/2) sudah banyak hotel yang penuh.
Tidak adanya listrik sejak hari Senin membuat kami yang bertahan di rumah tak bisa menyalakan penghangat ruangan dan memasak karena kompor di sini kebanyakan bertenaga listrik. Aliran air untuk konsumsi dan mandi juga terhambat karena pipa yang beku.
Semua tempat yang masih bisa buka menjual makanan sarat dengan antrean panjang. SPBU juga banyak yang tutup atau habis persediaan. Jika masih ada yang buka, hanya menjual bensin dengan oktan yang paling tinggi dan mahal.
Mau keliling kota naik kendaraan bermotor untuk mencari persediaan makanan atau bahan bakar juga bisa dibilang berbahaya, karena jalanan beku oleh es yang licin. Jarangnya musim dingin datang ke Houston membuat warga di sini tak menyiapkan kendaraannya dengan alat khusus, seperti roda bergerigi atau rantai ban.
Pada hari Selasa saya memutuskan mengungsi ke rumah teman saya. Saat itu rumahnya masih dialiri listrik, meski tak ada air, lumayan untuk menghangatkan makanan. Tak berapa lama, aliran listrik di rumahnya terputus karena ada pemadaman bergilir. Kami lalu bertahan dengan jaket dan selimut tebal di dalam rumah.
Keesokan harinya ada pemberitahuan kalau aliran air keran tak bisa diminum langsung untuk sementara waktu. Warga yang punya kompor api langsung mengumpulkan air dari tetesan hujan dan salju di luar untuk direbus dan diminum, juga untuk keperluan kamar mandi. Yang lebih mengkhawatirkan, supermarket mulai kehabisan stok air bersih dan bahan makanan.
Hari Kamis kondisi terbilang cukup melegakan. ERCOT, perusahaan pengelola listrik di Texas, mulai menstabillkan pengaliran listrik dan meniadakan pemadaman bergilir, termasuk di area apartemen saya.
Saat ini, Sabtu (20/2), kondisi saya terbilang aman dan stabil. Saya sudah kembali ke apartemen dan sudah bisa kembali masak dan beraktivitas seperti biasa.
Surat dari Rantau masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Suasana jalanan The Woodlands Parkway di Texas yang tertutup salju tebal pada Senin (15/2). (AP/Brett Coomer)
Rasanya merantau di Texas
Saya tinggal di Texas dalam rangka melanjutkan studi S2 di Rice University jurusan Master of Energy Economics. Sekarang saya sedang kerja praktek di salah satu perusahaan konsultan di Houston.
Tertarik dengan manajemen bidang energi dan pengembangan diri menjadi alasan saya kuliah lagi di sini.
Sebelum ke Texas, saya lulus dari jurusan Manajemen dan Bisnis di ITB dan sempat bekerja di salah satu perusahaan energi di Jakarta.
Setelah banyak mencari informasi, bidang S2 yang saya ingin jajal hanya ada di dua universitas; University of Aberdeen di Skotlandia dan Rice University di Houston, Texas.
Selain karena peringkat universitas yang lebih baik, saya memilih universitas di Texas karena keekonomian rasanya lebih cocok dipelajari di Amerika Serikat, negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Houston pun merupakan pusatnya industri energi dunia.
Di pesisir timur ada New York City yang dikenal dengan suasana kotanya yang selalu sibuk, sementara di pesisir barat ada Los Angeles yang lebih santai dan glamor. Houston yang identik dengan 'kota koboi' berada di tengah dan bisa dibilang mempunyai karakter unik tersendiri.
Warga lokal maupun pendatang yang saya kenal rata-rata berkarakter ramah dengan siapa saja. Banyak dari mereka yang sukses dalam hal pendidikan dan pekerjaan, tapi tetap rendah hati.
Makanan di sini juga beragam dan enak-enak! Istilah 'everything is bigger in Texas' yang bukan sekedar slogan, juga biaya hidup yang lebih terjangkau dibandingkan New York City dan Los Angeles membuat hidup di sini lebih nyaman menurut saya.
Suasana kota Houston di Texas, Amerika Serikat, saat cuaca dingin ekstrem melanda pada Senin (15/2). (Arsip Sastya Dayu)
Tips merantau ke luar negeri
Saat pertama kali datang ke Houston saya tak mengenal siapa-siapa. Tapi momen tersebut saya anggap sebagai latihan pendewasaan diri, sehingga saya membuka diri untuk berbincang dengan teman baru dari berbagai latar belakang. Alhasil saat ini saya cukup punya banyak teman mancanegara selain WNI yang juga merantau ke sini.
Kasus rasial dan pelecehan masih terjadi Texas dan di Amerika Serikat pada umumnya, namun saya bersyukur belum pernah mengalami hal tersebut.
Di tempat kerja saya, kasus rasial dan pelecehan akan ditanggulangi dengan serius. Karyawan bisa langsung melapor ke HRD dan sanksinya bisa sampai pemutusan hubungan kerja.
Bagi pembaca CNNIndonesia.com yang ingin merantau ke luar negeri, saya sarankan untuk selalu terbuka dengan kesempatan baru, bangun jaringan pertemanan seluas-luasnya, sehingga semakin banyak ilmu di luar tempat kuliah atau tempat kerja yang didapat.
Tak ada kata terlambat untuk keluar dari zona nyaman. Pun selalu jaga diri dan pintar membaca situasi.
Ketika baru mulai merantau ataupun saat sudah nyaman, jangan pernah lupakan asal muasal kita sebagai orang Indonesia dan pengamalan ilmu kita untuk kemajuan Tanah Air.
---
Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, silakan hubungi [email protected]