Mick Jagger hingga Lorde Tolak Pemakaian Lagu di Kampanye AS

CNN Indonesia | Rabu, 29/07/2020 11:30 WIB
Sederet musisi papan atas, dari Mick Jagger, Blondie, hingga Lorde meneken surat terbuka untuk menolak penggunaan lagu karya mereka di kampanye politik AS. Sederet musisi papan atas, dari Mick Jagger, Blondie, hingga Lorde meneken surat terbuka untuk menolak penggunaan lagu karya mereka di kampanye politik AS. (AFP/Alberto Pizzoli)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sederet musisi papan atas, mulai dari Mick Jagger, Blondie, hingga Lorde menandatangani surat terbuka untuk menyatakan penolakan atas penggunaan lagu karya mereka di kampanye politik Amerika Serikat.

Para musisi menyatukan kekuatan di bawah naungan lembaga advokasi non-profit yang berbasis di AS, Artists Rights Alliance (ARA). Melalui situs resmi mereka, ARA melayangkan surat terbuka kepada Partai Demokrat, Partai Republik, Kongres, dan Senat.

Dalam surat itu, para musisi menuntut para politikus untuk meminta izin terlebih dulu jika ingin menggunakan musik mereka dalam kampanye. Para musisi juga memegang hak penuh untuk menolak atau menerima permintaan izin tersebut.


"Kami menuntut semua komite partai politik untuk menentukan kebijakan yang jelas bagi kampanye-kampanye agar meminta izin kepada seniman rekaman, penulis lagu, dan pemegang hak cipta sebelum secara publik menggunakan musik mereka di kampanye politik," tulis mereka.

ARA menulis surat terbuka ini setelah sejumlah musisi, termasuk The Rolling Stones, melontarkan protes keras terhadap Presiden Donald Trump karena memakai lagu mereka tanpa izin dalam kampanye menuju pemilihan umum 2020.

The Rolling Stones bahkan mengancam bakal menggugat Trump jika masih terus menggunakan lagu mereka dalam kampanye.

Pada Juni lalu, tim hukum The Rolling Stone bekerja sama dengan organisasi hak cipta terbesar, BMI, untuk mencegah Trump menggunakan musik mereka dalam acara politik.

BMI lantas memperingatkan Trump bahwa penggunaan musik The Rolling Stones tanpa izin merupakan pelanggaran kesepakatan hak cipta.

Jika Trump terus mengabaikan peringatan The Rolling Stones dan BMI, ia akan menghadapi gugatan "karena melanggar embargo dan memutar musik yang tak resmi."

Peringatan ini dirilis setelah Trump memainkan sejumlah lagu The Rolling Stones, seperti You Can't Always Get What You Want dan Start Me Up, dalam kampanye pemilu presiden pada 2016 lalu.

[Gambas:Video CNN]

The Rolling Stones lantas mengirimkan permintaan resmi agar Trump berhenti menggunakan lagu mereka, layaknya tuntutan yang juga diajukan Adele, Neil Young, dan Steven Tyler.

Namun, Trump tetap menggunakan musik para musisi tersebut. Setelah menang pemilu dan mengambil sumpah Presiden pada Januari 2017, Trump bahkan hadir ke konser pelantikannya dengan diiringi lagu Heart of Stone milik The Rolling Stones.

Kini, para musisi tersebut menyatukan kekuatan untuk melontarkan protes keras di bawah naungan ARA. Selain musisi yang disebutkan di atas, nama sejumlah artis lain juga tertera di surat tersebut, seperti Elton John, Elvis Costello, Linkin Park, Lykke Li, hingga REM.

"Para seniman ini menghabiskan waktu seumur hidup untuk membuat musik yang kita semua tahu dan cintai. Setidaknya, berikan hak mereka. Dengan begitu banyak pencipta yang menyatakan protes mengenai hal ini, sekarang adalah saat tepat untuk mengambil tindakan agar suara mereka terdengar," tulis ARA.

(has/has)