Saat Rizieq Shihab Menyeru 'People Power'

Prima Gumilang | CNN Indonesia
Senin, 21 Nov 2016 14:36 WIB
Aksi pelemparan botol dan menerobos barikade aparat sudah dilakukan siang hari ketika demo #411 berlangsung. Situasi berubah pada malam hari: kekisruhan pecah. Aksi pelemparan botol dan menerobos barikade aparat dilakukan ketika demo #411 berlangsung. Namun, situasi berubah ketika malam hari: kekisruhan pecah. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lima pemuda menerobos barisan aparat pada satu sore dalam sebuah demo besar 4 November lalu. Mereka yang berada di barisan depan itu berusaha menyingkirkan kawat berduri. Bekas botol minuman, bilah bambu maupun rotan dilempar ke arah petugas kepolisian.

Para pemuda tersebut juga membakar ban. Saat itu, waktu menunjukkan sekitar pukul 15.00 WIB.

Aparat segera memperketat barikade. Polisi langsung merapatkan barisan. Tameng-tameng didirikan. Lapisan pembatas jalan dan gulungan kawat berduri direntangkan di bagian depan. Mobil water cannon diparkir di balik pasukan.

Gema takbir dan lantunan salawat terus terdengar mengiringi aksi.

Sejak selesai salat Jumat, ribuan orang bergerak dari berbagai penjuru. Titik kumpul utama ada di Masjid Istiqlal. Mereka bergabung dalam Aksi Bela Islam II yang dimotori Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI).

Massa hendak menggelar aksinya tepat di depan Istana Negara, Jakarta. Namun laju mereka terhenti di depan Wisma TNI, Jalan Medan Merdeka Barat arah Harmoni. Aparat gabungan TNI-Polri mengadang massa aksi.

Sementara di seberang, Jalan Medan Merdeka Barat arah patung kuda, juga penuh sesak para pengunjuk rasa. Mobil komando yang mengangkut pengeras suara dijadikan panggung utama.

Pembina GNPF MUI Rizieq Shihab lantang berorasi dari atas mobil. Dia meminta Presiden Joko Widodo segera memerintahkan Polri menangkap Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Mereka menuding Ahok menistakan agama.

“Kalau Ahok tidak ditangkap, kami tidak akan bubar dari depan Istana. Kalau kami bertahan, bukan tidak mungkin massa akan berubah menjadi people power dan revolusi,” pekik Rizieq. 

Istilah people power  sendiri mengacu pada demonstrasi besar namun dilakukan secara damai.  Pada 1986, misalnya, masyarakat Filipina melakukan protes besar dan akhirnya menggulingkan Presiden korup dan otoriter, Ferdinand Marcos. 

Sejumlah tokoh politik juga ikut nangkring di atas mobil itu. Beberapa di antaranya, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dan Fahri Hamzah, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga era Presiden SBY Adhyaksa Dault, Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanan Nasional Amien Rais.

Rizieq memegang komando aksi dari atas mobil. Sesekali dia meneriakkan yel-yel. “Hati-hati, hati-hati provokasi.”
Rizieq Shihab dalam satu aksi di demo anti Ahok. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono
Rizieq Shihab dalam satu aksi di demo anti Ahok. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Ketika kericuhan terjadi, sebagian demonstran berlari menjauh ke belakang. Mulai dari orang tua hingga perempuan. Beberapa orang lainnya nekat memanjat pagar kementerian karena sulit lari di tengah kerumunan.

Pagar Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dibuka. Banyak peserta aksi yang beristirahat di halaman gedung. Sebagian orang pergi ke pintu belakang, tembus ke Jalan Abdul Muis. Di sana, para pengunjuk rasa juga ramai bergerak ke Istana.

Kerumunan massa berkumpul di Jalan Majapahit, seberang Kementerian Sekretariat Negara yang bersebelahan dengan kompleks Istana Negara. Mereka datang dari arah Jalan Veteran dan Abdul Muis.

Sebagian orang mulai menerobos lapisan kawat berduri. Polisi membiarkan mereka karena tak kuasa menahan serbuan gelombang demonstran. Jumlah aparat diperkirakan kalah banyak.

Polisi membentuk pagar betis. Wartawan diminta menghindari kerumunan massa. “Tolong mundur dan menjauh dari massa. Mereka sensitif terhadap media,” ujar seorang aparat ke arah para pewarta.

Di sisi lain, di Jalan Medan Merdeka Utara, massa juga diadang barikade aparat. Para pengunjuk rasa datang dari arah Kementerian Dalam Negeri. Istana Negara dikepung demonstran dari segala sudut, timur dan barat.

Menjelang Malam

Menjelang malam, mereka yang berdiri di bawah bendera Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diduga kembali membuat kericuhan.

Bambu, botol, dan batu melayang ke arah petugas. Beberapa polisi dan awak media yang berada di balik barikade aparat, luka-luka terkena lemparan benda dari arah massa.

Namun demonstran yang bertahan di depan Kemsetneg tak terpancing bentrokan. Bahkan banyak pula yang berseliweran masuk ke barisan aparat.

Mereka berdiri di belakang polisi tampak heran, sambil menonton sejumlah orang di barisan HMI yang terlibat kericuhan.

Serangan massa berlanjut hingga langit gelap. Sejumlah orang berseru dari tengah kerumunan. “Maju! Dorong!” teriak massa mengompori. Beberapa orang demonstran memukili barikade petugas dengan bambu. Ada pula yang menendangi tameng polisi. Mereka berusaha membobol pertahanan aparat.

Barikade kepolisian dari satuan Brimob itu masih bertahan di balik tamengnya. Mereka tak bergerak apalagi melakukan perlawanan.

Sebagian orang berseragam Front Pembela Islam berusaha mencegah bentrokan. Mereka berniat membentengi polisi dan meminta sekelompok perusuh berhenti menyerang.

Lewat pengeras suara yang diarahkan ke demonstran, polisi mengimbau massa tidak terprovokasi. Berkali-kali petugas kepolisian meminta para pengunjuk rasa tenang. Namun massa tak menghiraukan.

Lantunan ayat suci Alquran juga tak hentinya disetel melalui pengeras suara yang ada di depan Wisma TNI, tempat bentrokan terjadi.

Tak lama kemudian, seorang berpeci putih yang mengaku sebagai habib naik ke atas mobil polisi. Dia meminta pengunjuk rasa menghentikan kericuhan. Para pemuda yang gelap mata tak mempedulikannya. Massa makin tidak terkendali.

Hingga akhirnya azan Isya berkumandang di tengah kekacauan. Habib yang masih berada di atas mobil polisi berteriak-teriak. “Berhenti! Berhenti! Kita dengerin azan dulu,” katanya.

Kerusuhan tiba-tiba berhenti.
Kerusuhan terjadi saat demo anti Ahok pada 4 November lalu. (CNN Indonesia/Andry Novelino)Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino
Kekisruhan terjadi saat demo anti Ahok pada 4 November lalu. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Sejumlah polisi terluka. Di belakang barisan polisi, pasukan tentara bersiap memberi bantuan. Lima mobil Marinir diturunkan dari depan Istana masuk ke arah Monas.

Tak lama usai azan berhenti, kekacauan kembali terjadi di titik yang sama. Sementara di sisi jalan yang berseberangan, orasi dan yel yel masih berlanjut. Seolah aksi mereka berjalan sendiri-sendiri.

Polisi bertameng mulai bergerak dan mendorong massa perusuh untuk bubar.

Situasi semakin kacau. Polisi mulai menembakkan gas air mata ke arah massa yang berkumpul di Jalan Medan Merdeka Barat. Ratusan selongsong peluru gas air mata berjatuhan di jalan depan Istana.

Asap gas mengepul di barisan demonstran. Para pengunjuk rasa kocar-kacir membubarkan diri. Mobil ambulans wara-wiri mengangkut demonstran yang tak kuat menahan gas air mata. Sebagian massa masih bertahan berhadap-hadapan dengan aparat.

Melihat tembakan terus menerus dilontarkan ke arah demonstran, massa yang berkumpul di depan Kemsetneg mulai terprovokasi. Mereka kemudian memukuli barisan aparat dengan tongkat bendera dan melempari barikade dengan botol bekas dan bambu.

Di sisi lain, di depan pintu Monas seberang Istana, mobil Brimob tiba-tiba terbakar. Api membesar dan asapnya mengebul ke udara. Titik api juga bertambah di barisan massa HMI. Sementara aparat terus menerus menembakkan gas air mata.
Aksi demonstran dalam demo anti Ahok. (CNN Indonesia/Andry Novelino)Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino
Aparat keamanan mencoba meredam suasana dalam demo anti Ahok. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Instruksi Kapolri

Di tengah situasi kacau itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menginstruksikan kepada anak buahnya agar menghentikan tembakan. Instruksi itu keluar dari pengeras suara di Wisma TNI. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo juga meminta massa aksi tenang.

“Saya Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Saya minta anggota Polri tidak mengeluarkan tembakan gas air mata,” kata Tito.

Instruksi Kapolri tak didengar. Tembakan terus dilontarkan ke udara disertai semprotan air dari mobil water cannon ke arah massa.

Bahkan ada tembakan yang mengarah ke Wisma TNI. Gas air mata buka hanya menyasar pengunjuk rasa, tapi juga jatuh di belakang barisan aparat kepolisian. “Ini bagaimana sih, kok malah ditembak ke sini,” keluh seorang petugas dari balik penembak gas air mata.

Polisi kocar-kacir menjauhi titik gas. Sebagian petugas terkapar di depan gerbang Istana. Mereka mencari air untuk membasuh kepala, sambil mengipasi muka dengan sobekan kardus. Kucuran air mata mengalir di tengah wajah yang coreng moreng karena odol.

Panas, perih, dan sesak karena udara bercampur gas membuat massa aksi, polisi, dan para pewarta kesulitan bernapas. Mereka yang tak kuat dengan kondisi tersebut diungsikan ke tempat aman.

Suara tembakan gas air mata perlahan berhenti sebelum pukul sembilan malam. Aparat keamanan tak hentinya mengimbau massa yang masih berada di Jalan Medan Merdeka untuk bubar.

Para demonstran satu per satu membubarkan diri ke arah patung kuda. Beberapa titik api masih menyala di sejumlah lokasi. Sampah, tanaman, dan cone block pembatas jalan berserakan tak keruan.

Demonstrasi yang semula berjalan damai, pada akhirnya selesai dengan aksi kerusuhan.

Setelah dua minggu aksi berlalu, GNPF mengumumkan akan kembali mengadakan aksi lanjutan pada 2 Desember mendatang. Aksi Bela Islam III digelar karena pihak kepolisian tidak menahan Ahok yang berstatus tersangka dugaan penistaan agama.

“Karena Ahok tidak ditahan, kami sepakat melanjutkan aksi bela Islam ketiga,” kata Rizieq di Jakarta, Jumat lalu (18/11).
Mabes Polri menetapkan tersangka Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama. (CNN Indonesia/Safir Makki)Foto: CNN Indonesia/Safir Makki
Mabes Polri menetapkan tersangka Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Aksi tahap tiga ini rencananya diadakan dengan menggelar sajadah sambil istigasah. Mereka akan membacakan ayat Alquran dan melantunkan salawat.

Dia berkomitmen menjaga aksi tetap berjalan damai dan mematuhi aturan hukum. Tema aksi yang diusung tetap sama, “Tegakkan hukum terhadap penista agama dan pelindungnya.”

Kapolri Jenderal Tito Karnavian sempat mengimbau kepada para pihak yang akan mengikuti aksi agar membatasi massanya. Dia mengaku, pihaknya kesulitan mengontrol aksi jika massa terlalu banyak.

“Demonstrasi adalah hak warga negara. Tapi kalau terlalu banyak jumlahnya itu sulit dikontrol."

(asa/asa)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER