Kemarin, Ahok - begitu Basuki Tjahaja Purnama biasa dipanggil - menantang DPRD untuk berani mengajukan hak angket terhadap Mendagri karena dianggap telah menerima RAPBD 'palsu' yang diserahkan dirinya beberapa bulan lalu.
RAPBD 2015 yang diserahkan Ahok disebut palsu oleh DPRD karena bukanlah hasil yang dibahas bersama dengan DPRD. "Kalau menyalahkan saya, harus angketkan Mendagri dong, kok mau terima RAPBD yang salah," ujar Ahok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang tugasnya Kemendagri untuk menerima (RAPBD) yang disampaikan eksekutif. Kemudian kami beritahukan kalau itu palsu. Salahnya kan di Ahok karena dia yang menyerahkan, dia tidak mentaati peraturan perundang-undangan," ujar Taufik di Gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa (31/3).
Atas dasar itu, maka Kemendagri tidak dapat dikatakan melanggar peraturan maupun Undang-Undang saat menerima RAPBD yang bermasalah. Kemendagri tetap harus melakukan evaluasi terhadap RAPBD yang telah diajukan jika mendapati laporan adanya potensi pelanggaran dari DPRD daerah terkait.
"Kemendagri hanya berpedoman pada Undang-Undang bahwa RAPBD yang diserahkan eksekutif akan dievaluasi. Nanti kalau ada kesalahan baru diproses. Kalau Kemendagri tidak melakukan (evaluasi) maka salah karena tidak memenuhi kewajiban. Setelah dikomplain sama kita (DPRD) makanya dikeluarkan perbaikan," ujar Taufik.
Hak angket yang diajukan DPRD DKI ke Ahok ini bermula dari konflik penyusunan APBD DKI 2015. Ahok dan DPRD sempat menyusun dan mengesahkan APBD 2015 tersebut. Namun saat diserahkan ke Kemendagri untuk dievaluasi, Ahok menyerahkan APBD 2015 hasil e-budgeting yang hanya digarap eksekutif karena APBD yang dibahas bersama oleh DPRD banyak ditemui Ahok dana siluman. Total dana siluman APBD itu senilai Rp12 triliun. Dana siluman itu yang kemudian dilaporkan Ahok ke KPK.
(hel)