KPAI: Kekerasan Anak Dipicu Buruknya Pengasuhan Orang Tua

Joko Panji Sasongko & Joko Panji Sasongko , CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2015 10:35 WIB
KPAI: Kekerasan Anak Dipicu Buruknya Pengasuhan Orang Tua Warga berpartisipasi menera jari di atas spanduk untuk menolak kekerasan terhadap anak saat Car Free Day di Lapangan Puputan Margarana, Kota Denpasar, Bali, Minggu (14/6). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas untuk Angeline, anak korban kekerasan dan pembunuhan di Sanur, sekaligus merupakan rangkaian dari peringatan Hari Anak Nasional. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan penyebab tingginya angka kekerasan anak disebabkan minimnya pengasuhan berkualitas dari orang tua.

Hal tersebut berdasarkan hasil survei yang dilakukan KPAI pada 2015 tentang "Pemenuhan Hak Pengasuhan Anak" yang melibatkan 800 responden keluarga.

Ketua Divisi Telaah dan Kajian KPAI Rita Pranawati menjelaskan tantangan perkembangan zaman dan teknologi sangat membutuhkan pengetahuan yang baik dan perkembangan pengasuhan bukan pola asuh yang sama dengan yang mereka dapatkan dahulu. (Lihat Juga: Pemerintah Dinilai Abai pada Perlindungan Anak)

"Kami menemukan dari survei hanya 27,9% ayah dan 36,6% ibu yang mencari informasi pengasuhan berkualitas sebelum menikah. Artinya persiapan dari sisi pengetahuan orang tua masih sangat jauh dari ideal," ujar Rita dalam keterangan pers yang diterima CNN Indonesia, Selasa (15/9). (Lihat Juga: Pemerhati Anak Tagih Aturan Pelaksana UU Peradilan Anak)

Dalam survei tersebut juga ditemukan sebanyak 66,4% ayah dan 71% ibu meniru pengasuhan yang dilakukan kedua orangtua mereka dahulu.

Lebih lanjut, Rita mengatakan orang tua masih mengedepankan perkembangan akademis semata, padahal kebutuhan tumbuh kembang anak bukan hanya dari segi kognitif semata.

Selain itu, ditemukan fakta bahwa urusan tumbuh kembang anak seperti pengembangan hobi dan pertemanan masih menjadi pertanyaan kedua yang disampaikan orang tua kepada anak.

Padahal, menurut Rita, urusan non akademis tersebut merupakan dinamika tumbuh kembang anak yang perlu mendapatkan penyikapan orang tua secara menyeluruh.

Rita menuturkan dalam survei yang ditujukan pada anak usia 10 hingga 18 tahun menunjukkan bahwa orang tua cenderung memberikan pertanyaan tertutup dan membutuhkan jawaban satu kata, seperti pertanyaan seperti sudah makan belum, dapat nilai berapa atau ada pekerjaan rumah tidak.

"Padahal pancingan akan menumbuhkan kebiasaan anak bercerita sehingga jika ada masalah dengan anak dapat terdeteksi secara dini dan disikapi secara cepat," ujar Rita.

Selain itu, penelitian juga menunjukkan hanya sebanyak 47,1% ayah dan 40,6 % ibu yang melakukan komunikasi dengan anak selama satu jam. KPAI menilai sedikitnya komunikasi berdampak pada kualitas pengasuhan itu sendiri.

Rita menyatakan sampai saat ini masih ada anak yang mengakui mengakses pornografi, melakukan bullying, dan game online yang mengandung kekerasan. Walaupun dalam survei tersebut sebanyak 70 persen dari orang tua merasa telah melakukan pengawasan terhadap akses media digital, pencegahan bullying, dan game online.

Survei juga menunjukkan hak anak untuk bermain juga masih dibatasi, padahal dunia anak adalah dunia bermain dan itu merupakan hak anak. Hal ini dapat dilihat masih ada sekitar 2,8 persen ibu yang menyatakan tidak memberikan waktu bermain bagi anaknya.

"Secara umum peran ibu lebih besar dan lebih mengambil inisiatif dalam hal pengasuhan dibandingkan ayah. Padahal ayah dan ibu sama-sama dibutuhkan oleh anak dalam tumbuh kembangnya," ujar Rita.

Oleh karena itu, KPAI mengajak semua keluarga Indonesia untuk memberikan pengasuhan berkualitas kepada anak demi masa depan yang lebih baik untuk anak dan Indonesi. Sebab, Rita mengatakan jika orang tua mengabaikan pengasuhan anak saat ini, maka dua puluh tahun yang akan datang akan terlihat buruknya kualitas sumber daya manusia bangsa.

"KPAI mendorong pemerintah untuk melakukan kampanye, edukasi, dan mendorong kebijakan Pengasuhan Berkualitas. Hal ini agar kita tidak hanya menyelesaikan masalah seperti pemadam kebakaran, tetapi mencegah masalah di bagian hulunya," ujar Rita.