"Kalau hakim agung di MK tak bisa menjaga moral dan intergritas lebih baik mundur," kata Direktur Eksekutif Kemitraan Monica Tanuhandaru, dalam sebuah diskusi, di Jakarta, Rabu (7/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, pertemuan Arief dengan anggota Komisi III DPR di sebuah hotel menjelang uji kepatutan dan kelayakan dia sebagai Hakim Konstitusi MK periode kedua.
"Masyarakat sipil lah yang menegakan reformasi, bahwa MK itu adalah anak kandung reformasi, jadi kami ingin mengembalikan kembali marwah MK yang hancur karena itu," cetus dia.
Ia risau, putusan yang dihasilkan MK menjadi tak independen. Terutama, putusan terkait perselisihan hasil Pilkada 2018. Ketidakpercayaan terhadap MK akan berbahaya bagi demokrasi.
"Kalau ada ketidakpercayaan terhadap integritas di MK, maka ini sangat fatal, karena MK yang memberikan keputusan soal sengketa pemilu. Dan diatas MK tak ada upaya hukum lagi," kata Fadli.
UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota telah mengamanatkan MK sebagai satu-satunya lembaga untuk menangani sengketa Pilkada dan sifat putusannya final dan mengikat.
Selama menjabat sebagai Ketua MK, Arief sudah dua kali dijatuhi sanksi ringan.
Sesuai Peraturan MK 2/2014, jika ada hakim MK yang dua kali melanggar kode etik hakim konstitusi, maka pelanggaran ketiga akan langsung dikategorikan sebagai dugaan pelanggaran berat.
"Pelanggaran etik kan tergantung masing-masing, kesadaran nurani masing-masing. Sehingga kalau kita mau berpegang pada normatifnya, ya sudah dapat teguran ya sudah," kata dia.
(arh/gil)