Kisah Lebaran dari Panti Jompo Tertua di Bandung

Huyugo Simbolon, CNN Indonesia | Jumat, 14/05/2021 09:45 WIB
Panti Sosial Tresna Wredha di Bandung diisi belasan penghuni yang menyimpan beragam macam cerita. Para lansia penghuni Panti Sosial Tresna Wredha. (CNN Indonesia/ Huyogo)
Bandung, CNN Indonesia --

Bangunan di Jalan Sancang Nomor 2, Kota Bandung itu dari luar tampak sepi. Sebuah plang bertulis Panti Sosial Tresna Wredha Budi Pertiwi terpacak, dinaungi pohon palm yang rindang.

Saking lengangnya suasana, kita akan menyadari suara angin yang siang itu menggerakkan daun pohon palm di halaman panti. Ada belasan penghuni lanjut usia (lansia) di sini. Semuanya perempuan berusia 60 tahun ke atas.

Kartinah (78), adalah satu di antaranya. Ramadan siang itu ia tengah duduk-duduk di sebuah kursi tak jauh dari kamarnya di pojokan, di hadapan jemurannya yang hampir kering. Cuaca terik membuat pakaian yang ia cuci sejak pagi itu bisa langsung disimpan di lemari.


"Saya masuk panti tahun 76 [1976], di umur 33 [tahun]. Dulu saya petugas yang ngurus nenek-nenek. Total sudah 44 tahun saya mengabdi di sini," cerita Kartinah membuka obrolan.

Di panti ini, ia menghuni kamar seluas 3x3 meter. Di dinding kamar tampak fotonya terpajang sedang bersama perawat lain, ada pula foto para pendiri panti.

Hampir separuh usai Kartinah dihabiskan di sini.

Ia mengenang, saat itu ada setidaknya 45 orang yang ia rawat. Setelah puluhan tahun mengabdi, Kartinah memilih menetap jadi penghuni panti. Bukan lagi sebagai petugas.

"Dulu itu susah sekali mencari karyawan. Saya merasa tidak ada pekerjaan lain, jadi memilih untuk jadi petugas di sini," tutur dia.

Kartinah merasa panti sudah menjadi bagian dari hidupnya. Karena itu meski masih punya keluarga, ia lebih memilih tinggal di sini.

"Anak saya masih tinggal di Bandung, masih bekerja. Kalau ke sini sering, dikunjungi cucu dan menantu," kata dia.

Ramadan Sunyi Panti Werdha Tertua di Bandung Kala PandemiKartinah, salah satu penghuni di Panti Sosial Tresna Wredha Budi Pertiwi di Bandung. (CNN Indonesia/ Huyogo)

Anak dan cucu-cucunya rutin mengunjungi Kartinah setidaknya sebulan sekali. Tapi rutinitas ini tersendat setahun belakangan karena pandemi Covid-19. Ia tak bisa ke mana-mana, kunjungan keluarga pun dibatasi.

Kartinah kangen bertemu cucunya, tapi juga takut dengan virus corona. Belakangan ia sedikit lega setelah menerima suntik dua dosis vaksin.

"Rindu selalu ada, tapi saya juga takut corona," aku perempuan kelahiran Purwokerto tersebut.

Selama Ramadan, hari-hari di panti lebih banyak diisi dengan kegiatan keagamaan. Senam atau aktivitas lain yang menguras tenaga ditiadakan. Kartinah biasanya mengisi waktu dengan membaca Al-Quran.

Kegiatan lain yang bisa dilakukan di sini tentu, ngobrol. Tampak dari kejauhan, di salah satu sudut lain, terlihat seorang nenek asyik membahas sesuatu dengan teman sekamarnya.

Sementara seorang penghuni lain menghampiri Kartinah. Namanya Rohimah, berusia 94 tahun. Rambut yang sudah memutih sedikit menyembul dari balik kerudungnya yang tampak longgar.

"Hallo..hoe gaat het," ucap Rohimah. Seluruh penghuni di sini tahu bahwa Rohimah fasih Berbahasa Belanda.

Ia pernah bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di kawasan Riouwstraat--yang kini lebih dikenal sebagai Jalan Riau di Bandung. Rohimah siang itu juga pamer kebolehan dengan mengucapkan kalimat yang lebih panjang.

"Waar wil je, waarom ziet er netjes uit," kata dia. Atau yang berarti: "Mau ke mana, mengapa terlihat begitu rapi?".

Lanjut baca ke halaman berikutnya ...

Sunyi tapi Riuh Cerita Panti Werdha Kala Pandemi

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK