LIPUTAN KHUSUS

Cari Cuan di MMA: Jangan Harap Kaya Mendadak

Nova Arifianto, CNN Indonesia | Kamis, 28/01/2021 08:45 WIB
Meski harus berdarah-darah di atas ring octagon, dompet para petarung MMA di Indonesia tak serta menebal secara drastis. Petarung MMA harus bekerja keras guna mendapat penghasilan yang besar. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Angga Yudha Trisnamers menangis seketika ketika kuncian rear naked choke miliknya membuat lawan terkapar. Jurus itu mengantarkan Angga menjadi juara baru dalam duel perebutan gelar juara kelas ringan One Pride.

Selain mendapat perih dan linu di badan lantaran sempat mendapat gebukan dan kuncian lawan, rasa campur aduk berkecamuk dalam hatinya.

Pria asal Solo, Jawa Tengah, itu senang bisa meraih sabuk juara tanpa didampingi pelatih. Terlebih Angga bisa membalikkan prediksi orang-orang karena dianggap underdog.


Satu lagi, Angga merasa kemenangan itu penegasan atas impian yang didambakan sejak lama.

"Saya sangat menyukai bela diri dari kecil. Saya ingin membuktikan diri kalau saya bisa menekuni bela diri dan bisa menjadi seperti pegangan hidup. Ya, kemenangan itu bikin saya makin mantap menjadikan MMA sebagai pegangan hidup," ujar Angga.

Kancah MMA Dalam Olahraga Tarung Indonesia. CNN Indonesia/Adhi WicaksonoPetarung MMA di level nasional masih banyak yang harus menjalani profesi ganda. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Kemenangan membawa Angga ke kesuksesan baru dalam hal ekonomi. Sebelum menundukkan juara bertahan Jeka Saragih, yang merupakan kawan di luar ring, Angga mengaku tidak punya sponsor dan lebih sering mendapat uang dari menjadi pelatih.

"Karena kalau hanya mengandalkan uang dari pertarungan di Indonesia masih belum bisa. Kami dapat nilai plus dari melatih. Setelah lawan Jeka ya sedikit-sedikit ada. Kita mencari-cari. Ya ada satu-dua sponsor," aku Angga.

"Makanya saya berterima kasih atas acara-acara seperti ini [pertarungan MMA level nasional] karena banyak membantu insan-insan muda seperti saya untuk mengembangkan bakat dan mata pencaharian dari MMA ini," sambung pria yang juga memiliki sasana MMA tersebut.

Prihatin Bertarung di Dalam Negeri

Pengakuan Angga soal materi dari dunia MMA di Indonesia juga diakui banyak petarung level nasional lain, yang harus menjalani pekerjaan sampingan guna menjaga agar dapur tetap ngebul.

Memang, sulit bagi petarung profesional jika hanya mengandalkan pendapatan adu ilmu di dalam negeri.

Kendati sudah ada wadah yang juga kembali menggairahkan MMA di level nasional dan ditayangkan di televisi, seorang petarung tidak bisa sering tampil.

[Gambas:Video CNN]

Selain aturan kesehatan dan keselamatan yang tidak mengizinkan petarung tampil dalam waktu berdekatan, mereka juga harus menunggu giliran bertanding.

"Mereka [petarung] dibayar per pertandingan. Jadi mereka tidak dibayar lewat kontrak setahun. Biasanya mereka yang punya kualitas bisa bertarung tiga kali, jadi per empat bulan. Tetapi kalau menurun atau cedera, ya hanya dua kali dalam satu tahun. Semakin baik performanya semakin sering kita panggil," ujar Ketua Dewan Juri PT Merah Putih Berkibar promotor One Pride, Max Metino.

Para petarung pemula bisa dibayar di kisaran dua setengah juta rupiah untuk satu pertandingan. Nilainya bertambah dua kali lipat jika meraih kemenangan.

"Kalau dia menang submission ditambah bonus satu juta, menang KO dua juta. Ada lagi KO fight of the night mendapat bonus empat juta. Setiap menang uang tampilnya juga akan ditambah lagi, ditambah lagi sampai ada limitnya," sambungnya dalam wawancara dengan CNNIndonesia.com pada awal 2020.

Seperti dikatakan Max, untuk bisa mendapat uang banyak dari dalam octagon, seorang petarung harus membuktikan kualitas dan meraih kemenangan demi kemenangan hingga berbuah cuan.

Bukan Cuan dalam Waktu Singkat

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK