Nugraha Besoes 28 tahun menjabat sebagai Sekjen PSSI. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Jakarta, CNN Indonesia --
Nugraha Besoes hingga kini tercatat sebagai Sekjen PSSI dengan masa jabatan terlama, yakni 28 tahun. Setelah lengser pada 2011, apa saja kegiatan pria yang akrab disapa Kang Nug tersebut?
Nugraha tercatat menjadi Sekjen PSSI di dua masa jabatan berbeda, yakni 1983-1999 dan 2003-2011. Dengan pengalaman 28 tahun sebagai Sekjen PSSI, Nugraha sering disebut sebagai 'Sekjen Abadi PSSI'.
Setelah satu dekade meninggalkan PSSI, Nugraha mengaku masih mengikuti perkembangan sepak bola nasional. Meski usianya akan genap 80 tahun pada Juli mendatang, Kang Nug tetap menggebu-gebu ketika membicarakan sepak bola.
Berikut hasil wawancara eksklusif CNNIndonesia.com dengan Nugraha Besoes:
Apa kabarnya Kang Nug? Kalau boleh bertanya sekarang usia Kang Nug berapa?
Sehat. Saya 80 tahun. Saya lahir di Jakarta, 4 Juli 1941.
Lagi sibuk apa Kang Nug?
Saya tidak ke mana-mana. Di rumah saja. Saya juga tidak macam-macam. Memang ada beberapa obat yang harus saya minum, tetapi biasa. Olahraga juga jarang. Paling jalan di halaman rumah.
Kegiatan sehari-hari saat ini seperti apa?
Ya cuma nonton televisi, mengikuti perkembangan olahraga, politik, pemerintahan, ekonomi, sepak bola terutama. Cuma sekarang olahraga harus disaksikan lewat channel berbayar.
Bagaimana Kang Nug melihat PSSI saat ini?
Kalau dibandingkan dengan zaman dulu, susah, karena sekarang kan ada rintangan yang tidak bisa dihindari, pandemi ini. Jadi, bagaimanapun juga harus ada penyesuaian dengan protokol kesehatan. Protokol itu merupakan kebijakan pemerintah, tidak bisa diabaikan.
Nugraha Besoes mengkritik posisi Yunus Nusi sebagai Plt Sekjen PSSI. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Kalau ada kompetisi atau liga, itu hanya penyesuaian protokol kesehatan pemerintah. Bukan kebutuhan kompetisi. Kalau kompetisi kan, ada pemain, ada ofisial, ada wasit, dan ada suporter. Sekarang tidak ada suporter, jadi tidak lengkap elemennya.
Sudah satu tahun PSSI tidak punya Sekjen definitif, Kang Nug melihatnya seperti apa?
Pelaksana tugasnya, Yunus Nusi, apa masih menjadi Exco PSSI? Apakah menjadi Asprov Kalimantan Timur? Kalau masih, tidak boleh, meski pelaksana tugas. Karena namanya Sekjen itu profesional. Kasarnya dapat imbalan. Kalau dia masih pegang Exco itu melanggar statuta. Harusnya dilepas. Dia harus memilih, mau Sekjen apa Exco.
Tapi Ketua Umum PSSI tidak mempermasalahkan, bagaimana menurut Kang Nug?
Ada masalah berarti. Ini melanggar aturan yang berlaku, melanggar statuta. Yang namanya Sekjen itu profesional, dipilih ketua umum, disetujui oleh Exco. Jika Sekjen diambil dari salah satu Exco, ya dia harus mundur. Walaupun cuma jadi Plt. Pak (Mochamad) Iriawan harus cepat memutuskan.
Kang Nug mengikuti Piala Menpora 2021?
Piala ini kan untuk menggerakkan pertandingan sepak bola agar jalan dengan syarat yang dikehendaki pemerintah. Sejauh ini saya lihat berhasil. Setelah ini harus ada kompetisi. Itu yang dibutuhkan pemain.
Kalau kompetisi tak bisa jalan?
Kalau mau, ya, bikin Piala Indonesia yang meliputi semua kasta kompetisi sepak bola. Boleh itu.
Bagaimana kisah Kang Nug bisa masuk PSSI?
Saya juga kebetulan dari kecil sudah jadi pemain bola. Mula-mula saya ikut klub amatir di Jakarta, PS Setia. Kemudian saya pindah ke Bandung dan masuk PS Uni Bandung. Terus saya dipanggil masuk PSSI junior, tapi karena saya lebih memilih kuliah agak kendor sepak bolanya. Makanya sepak bola ini merupakan hobi saya.
Di Persija junior saya seangkatan dengan Sutjipto Soentoro sama Yudo Hadianto. Itu angkatan saya. Kalau di Persib sama almarhum profesor Indra.
Kalau sekolah Kang Nug di mana?
Saya SD, waktu itu SR dan SMP di Gunung Sahari, SMA Kanisius. Kalau Universitas Padjadjaran. Kuliah jurusan Ekonomi. Makanya salah jurusan saya, harusnya politik.
Dari awal memang suka sepak bola?
Betul. Saya ini main bola dari telanjang kaki sampai pakai sepatu. Saya pakai sepatu bola pertama kali di PS Setia. Umur 16-17 saya di PS Setia. Penjaga gawangnya saat itu pak Saelan sekaligus jadi kapten.
Ya, saya tidak sampai beken di sepak bola. Bekennya malah di organisasi. Beken tapi dibenci. Orang menganggap mudah jadi Sekjen, untuk apa lama-lama. Begitu masuk, hanya beberapa lama sudah bingung. Tak bisa.
Siapa yang mengajak ke PSSI?
Zaman ketua umumnya Pak Maulwi Saelan dan Pak Wahab Abdi. Pertama ketuanya kan Pak Zarnubi. Saya awalnya sebagai Ketua Bidang Pembinaan.
Nugraha Besoes 28 tahun menjabat sebagai Sekjen PSSI. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
Kalau jadi Sekjen sejak kapan?
Saya itu jadi Sekjen hampir 28 tahun. Awalnya saat pak Kardono, lantas Azwar Anas, dan terakhir di dua periode Nurdin Halid.
Tugas utama Sekjen PSSI masa Kang Nug itu seperti apa?
Sepak bola itu kan unsurnya ada empat: organisasi, kompetisi, tim nasional, dan keuangan. Itu inti dari organisasi sepak bola. Dalam organisasi profesional yang keempatnya itu harus berjalan dengan baik dan dilaksanakan oleh Sekjen. Orang yang menjalankan roda organisasi, ya Sekjen. Dia pelaksana ya, bukan pengambil kebijakan. Begitu diputus sama Ketua dan Exco, Sekjen jalankan.
Kalau komunikasi dengan AFC dan FIFA?
Sehari-hari ya Sekjen. Saya malah di FIFA pernah terpilih menjadi Ketua Komisi Disiplin terus kemudian jadi Komisi Banding. Saya bertugas jadi Komite Banding di Amerika Serikat saat pertandingan Piala Dunia 1994. Pada saat Diego Maradona kena hukuman karena dia pakai narkoba. Itu zaman saya.
Berarti Sekjen harus bisa bahasa internasional yang Kang Nug?
Paling tidak bahasa Inggris. Itu syarat mutlak. Bagaimana dia kalau tidak bisa bahasa Inggris mau komunikasi atau rapat dengan FIFA. Bengong saja nanti kerjanya.
Menjadi Sekjen federasi punya jenjang karier ke konfederasi bahkan ke FIFA ya kang?
Ya, benar. Buktinya saya. Dari Sekjen PSSI bisa masuk ke AFC sampai ke FIFA. Kalau di AFC saya sempat jadi Exco.
Siapa menurut Kang Nug yang cocok mengisi posisi Sekjen PSSI saat ini?
Waduh saya kurang tahu sekarang ini. Kurang mendalami. Banyak sih yang kenal dan kapasitasnya juga saya tahu. Cuma, sampai situ saja.
Kang Nug tidak menyiapkan kader untuk menjadi Sekjen PSSI?
Sebenarnya ada, cuma kan kalau saya yang usulkan belum tentu diterima. Itu kan hak prerogatif ketua umum. Pokoknya, orang yang ingin jadi Sekjen itu harus punya minat juga untuk menjadi sekretaris. Juga harus punya wawasan kesekretariatan, dan harus mampu melaksanakan itu semua.
Nugraha Besoes hingga kini tercatat sebagai Sekjen PSSI dengan masa jabatan terlama, yakni 28 tahun. Setelah lengser pada 2011, apa saja kegiatan pria yang akrab disapa Kang Nug tersebut?
Nugraha tercatat menjadi Sekjen PSSI di dua masa jabatan berbeda, yakni 1983-1999 dan 2003-2011. Dengan pengalaman 28 tahun sebagai Sekjen PSSI, Nugraha sering disebut sebagai 'Sekjen Abadi PSSI'.
Setelah satu dekade meninggalkan PSSI, Nugraha mengaku masih mengikuti perkembangan sepak bola nasional. Meski usianya akan genap 80 tahun pada Juli mendatang, Kang Nug tetap menggebu-gebu ketika membicarakan sepak bola.
Berikut hasil wawancara eksklusif CNNIndonesia.com dengan Nugraha Besoes:
Apa kabarnya Kang Nug? Kalau boleh bertanya sekarang usia Kang Nug berapa?
Sehat. Saya 80 tahun. Saya lahir di Jakarta, 4 Juli 1941.
Lagi sibuk apa Kang Nug?
Saya tidak ke mana-mana. Di rumah saja. Saya juga tidak macam-macam. Memang ada beberapa obat yang harus saya minum, tetapi biasa. Olahraga juga jarang. Paling jalan di halaman rumah.
Kegiatan sehari-hari saat ini seperti apa?
Ya cuma nonton televisi, mengikuti perkembangan olahraga, politik, pemerintahan, ekonomi, sepak bola terutama. Cuma sekarang olahraga harus disaksikan lewat channel berbayar.
Bagaimana Kang Nug melihat PSSI saat ini?
Kalau dibandingkan dengan zaman dulu, susah, karena sekarang kan ada rintangan yang tidak bisa dihindari, pandemi ini. Jadi, bagaimanapun juga harus ada penyesuaian dengan protokol kesehatan. Protokol itu merupakan kebijakan pemerintah, tidak bisa diabaikan.
Nugraha Besoes mengkritik posisi Yunus Nusi sebagai Plt Sekjen PSSI. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Kalau ada kompetisi atau liga, itu hanya penyesuaian protokol kesehatan pemerintah. Bukan kebutuhan kompetisi. Kalau kompetisi kan, ada pemain, ada ofisial, ada wasit, dan ada suporter. Sekarang tidak ada suporter, jadi tidak lengkap elemennya.
Sudah satu tahun PSSI tidak punya Sekjen definitif, Kang Nug melihatnya seperti apa?
Pelaksana tugasnya, Yunus Nusi, apa masih menjadi Exco PSSI? Apakah menjadi Asprov Kalimantan Timur? Kalau masih, tidak boleh, meski pelaksana tugas. Karena namanya Sekjen itu profesional. Kasarnya dapat imbalan. Kalau dia masih pegang Exco itu melanggar statuta. Harusnya dilepas. Dia harus memilih, mau Sekjen apa Exco.
Tapi Ketua Umum PSSI tidak mempermasalahkan, bagaimana menurut Kang Nug?
Ada masalah berarti. Ini melanggar aturan yang berlaku, melanggar statuta. Yang namanya Sekjen itu profesional, dipilih ketua umum, disetujui oleh Exco. Jika Sekjen diambil dari salah satu Exco, ya dia harus mundur. Walaupun cuma jadi Plt. Pak (Mochamad) Iriawan harus cepat memutuskan.
Kang Nug mengikuti Piala Menpora 2021?
Piala ini kan untuk menggerakkan pertandingan sepak bola agar jalan dengan syarat yang dikehendaki pemerintah. Sejauh ini saya lihat berhasil. Setelah ini harus ada kompetisi. Itu yang dibutuhkan pemain.
Kalau kompetisi tak bisa jalan?
Kalau mau, ya, bikin Piala Indonesia yang meliputi semua kasta kompetisi sepak bola. Boleh itu.
Bagaimana kisah Kang Nug bisa masuk PSSI?
Saya juga kebetulan dari kecil sudah jadi pemain bola. Mula-mula saya ikut klub amatir di Jakarta, PS Setia. Kemudian saya pindah ke Bandung dan masuk PS Uni Bandung. Terus saya dipanggil masuk PSSI junior, tapi karena saya lebih memilih kuliah agak kendor sepak bolanya. Makanya sepak bola ini merupakan hobi saya.
Nugraha Besoes pernah menangani kasus narkoba Diego Maradona. (AP/Carlo Fumagalli)
Di Persija dan Persib seangkatan siapa?
Di Persija junior saya seangkatan dengan Sutjipto Soentoro sama Yudo Hadianto. Itu angkatan saya. Kalau di Persib sama almarhum profesor Indra.
Kalau sekolah Kang Nug di mana?
Saya SD, waktu itu SR dan SMP di Gunung Sahari, SMA Kanisius. Kalau Universitas Padjadjaran. Kuliah jurusan Ekonomi. Makanya salah jurusan saya, harusnya politik.
Dari awal memang suka sepak bola?
Betul. Saya ini main bola dari telanjang kaki sampai pakai sepatu. Saya pakai sepatu bola pertama kali di PS Setia. Umur 16-17 saya di PS Setia. Penjaga gawangnya saat itu pak Saelan sekaligus jadi kapten.
Ya, saya tidak sampai beken di sepak bola. Bekennya malah di organisasi. Beken tapi dibenci. Orang menganggap mudah jadi Sekjen, untuk apa lama-lama. Begitu masuk, hanya beberapa lama sudah bingung. Tak bisa.
Siapa yang mengajak ke PSSI?
Zaman ketua umumnya Pak Maulwi Saelan dan Pak Wahab Abdi. Pertama ketuanya kan Pak Zarnubi. Saya awalnya sebagai Ketua Bidang Pembinaan.
Nugraha Besoes 28 tahun menjabat sebagai Sekjen PSSI. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)
Kalau jadi Sekjen sejak kapan?
Saya itu jadi Sekjen hampir 28 tahun. Awalnya saat pak Kardono, lantas Azwar Anas, dan terakhir di dua periode Nurdin Halid.
Tugas utama Sekjen PSSI masa Kang Nug itu seperti apa?
Sepak bola itu kan unsurnya ada empat: organisasi, kompetisi, tim nasional, dan keuangan. Itu inti dari organisasi sepak bola. Dalam organisasi profesional yang keempatnya itu harus berjalan dengan baik dan dilaksanakan oleh Sekjen. Orang yang menjalankan roda organisasi, ya Sekjen. Dia pelaksana ya, bukan pengambil kebijakan. Begitu diputus sama Ketua dan Exco, Sekjen jalankan.
Kalau komunikasi dengan AFC dan FIFA?
Sehari-hari ya Sekjen. Saya malah di FIFA pernah terpilih menjadi Ketua Komisi Disiplin terus kemudian jadi Komisi Banding. Saya bertugas jadi Komite Banding di Amerika Serikat saat pertandingan Piala Dunia 1994. Pada saat Diego Maradona kena hukuman karena dia pakai narkoba. Itu zaman saya.
Berarti Sekjen harus bisa bahasa internasional yang Kang Nug?
Paling tidak bahasa Inggris. Itu syarat mutlak. Bagaimana dia kalau tidak bisa bahasa Inggris mau komunikasi atau rapat dengan FIFA. Bengong saja nanti kerjanya.
Menjadi Sekjen federasi punya jenjang karier ke konfederasi bahkan ke FIFA ya kang?
Ya, benar. Buktinya saya. Dari Sekjen PSSI bisa masuk ke AFC sampai ke FIFA. Kalau di AFC saya sempat jadi Exco.
Siapa menurut Kang Nug yang cocok mengisi posisi Sekjen PSSI saat ini?
Waduh saya kurang tahu sekarang ini. Kurang mendalami. Banyak sih yang kenal dan kapasitasnya juga saya tahu. Cuma, sampai situ saja.
Kang Nug tidak menyiapkan kader untuk menjadi Sekjen PSSI?
Sebenarnya ada, cuma kan kalau saya yang usulkan belum tentu diterima. Itu kan hak prerogatif ketua umum. Pokoknya, orang yang ingin jadi Sekjen itu harus punya minat juga untuk menjadi sekretaris. Juga harus punya wawasan kesekretariatan, dan harus mampu melaksanakan itu semua.