Analisis

Festival Belanja Online, Pertaruhan Untung Buntung e-Commerce

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Jumat, 11/10/2019 17:05 WIB
Ilustrasi kesibukan gudang e-commerce. (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Festival belanja online nasional hingga kini menjadi ujung tombang bagi e-commerce untuk mendulang transaksi dan pengguna sebanyak-banyaknya. Pada saat pertama kali digelar pada 2012, Festival belanja online nasional dalam bentuk Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) bertujuan untuk memberi edukasi kepada masyarakat tentang kemudahan belanja online.

Pengamat e-commerce Kun Arief Cahyantoro menjelaskan awalnya pasar belum terbiasa untuk melakukan belanja daring. Pasar atau konsumen terbiasa untuk membeli barang secara offline dengan melihat langsung barang yang hendak dibeli.

"Pada saat itu pasar belum terbiasa untuk melakukan transaksi pembelian online tanpa melihat langsung & merasakan produk yang akan mereka beli," ujar Arief saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (11/10).


Berdasarkan laporan e-Economy SEA 2019 masifnya belanja online saat ini juga didukung oleh perkembangan pengguna ponsel yang sangat kilat. Perkembangan pengguna ponsel juga membuat pasar Asia Tenggara menjadi ekonomi digital dengan perkembangan yang paling cepat di dunia

Berdasarkan laporan tersebut jumlah pengguna ponsel yang tersambung ke internet telah menembus angka 360 juta orang.

Jumlah ini,100 juta lebih banyak dibandingkan pada 2015 dengan jumlah 260 juta orang. Sebagai catatan, saat ini jumlah penduduk Indonesia telah menyentuh angka 264 juta orang. Artinya jumlah ponsel yang digunakan di Indonesia 100 juta lebih banyak dibandingkan total populasi.

Selain itu, jumlah pengguna internet di Indonesia telah menembus angka 152 juta pengguna pada 2019. Jumlah ini meningkat 60 juta dibandingkan 2015 dengan jumlah 92 juta pengguna.

Google memprediksi nilai ekonomi berbasis internet Indonesia akan menembus US$40 miliar atau sekitar Rp566,28 triliun (dengan asumsi US$1=Rp14.157) pada akhir 2019.

Festival Belanja Online, Pertaruhan Untung Buntung e-CommerceGudang penyimpanan barang milik Lazada. Foto: CNN Indonesia/Bintoro Agung Sugiharto)
Indonesia menjadi kontributor terbesar dalam pertumbuhan ekonomi internet atau sering disebut ekonomi digital di Asia Tenggara.

Dari jumlah tersebut, Indonesia menyumbang 40 persen dari total nilai ekonomi internet di Asia Tenggara yang mencapai US$100 miliar. Proyeksi atas nilai ekonomi tersebut menghitung nilai barang dagangan (gross merchandise value/GMV) dari lima sektor, yaitu e-commerce, ride-hailing, online media, online travel agent, dan layanan finansial.

Managing Director Google Southeast Asia Randy Jusuf mengatakan angka tersebut meningkat lebih dari lima kali lipat dari US$8 miliar pada 2015 dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 49 persen per tahunnya.

Dari jumlah tersebut, sektor ride hailing menyumbang US$6 miliar, sedangkan sektor e-commerce menyumbang US$21 miliar atau lebih dari 50 persen.

Perkembangan signifikan sektor ride-hailing dan e-commerce masing-masing didorong oleh Hari Belanja Nasional (Harbolnas) dan layanan pesan antar makanan.

"Pertumbuhan e-commerce sangat didorong oleh Harbolnas. Pertumbuhan ride-hailing didorong oleh layanan pesan antar makanan," kata Randy di kantor Google Indonesia, Senin (7/10).

GMV ekonomi digital di  Asia Tenggara menyumbang 3,7 persen produk domestik bruto (GDP) pada 2019. Persentase ini meningkat 1,3 persen dari 2015 dan diproyeksi akan melewati angka 8 persen pada 2025.

"Asia Tenggara akan menutup celah dengan pasar maju seperti Amerika Serikat, di mana ekonomi Internet telah membentuk 6,5 persen dari PDB pada tahun 2016," katanya.

Lanjut untuk mengetahui tujuan utama e-commerce di balik Harbolnas. (evn/evn)
1 dari 3