PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk, contohnya. Perusahaan pelat merah tersebut memandang bisnis pembangkit listrik sebagai lini usaha utama perusahaan di masa depan.
Pasalnya, bisnis pertambangan batu bara dinilai tidak sinambung akibat cadangan yang terus turun dan harga batu bara yang cenderung fluktuatif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain melakukan penetrasi lewat lelang PLN, perusahaan juga membidik belasan PLTU untuk diakuisisi. Menurutnya, sebagian PLTU ini sudah beroperasi dan sebagian lagi telah melalui proses perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dengan PLN.
Sementara itu, produsen batu bara nasional PT Adaro Energy Tbk berniat untuk mengikuti semua lelang PLTU Mulur Tambang yang ditawarkan PLN. Selain itu, perusahaan yang mengambil porsi 11,89 persen produksi batu bara nasional tahun 2016 silam ini juga akan menmanfaatkan beberapa tambang yang telah diakuisisi di Sumatera Selatan dan Kalimantan untuk dijadikan sumber PLTU Mulut Tambang.
Ia berharap, lini bisnis pembangkit listrik bisa menyumbang pendapatan perusahaan sebesar 33 persen dalam waktu delapan hingga 10 tahun mendatang. Angka tersebut akan berbanding terbalik dengan kondisi tahun lalu, di mana 92,86 persen dari total pendapatan sebesar US$2,52 miliar masih ditopang dari penjualan batu bara.
"Kami berharap, di masa depan, kontribusi pembangkit listrik bisa mencapai sepertiga dari total pendapatan," ujarnya.