Review Serial: Japan Sinks 2020

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Jumat, 31/07/2020 19:15 WIB
Review serial Japan Sinks: 2020 menilai penonton perlu kesiapan mental yang kuat untuk bisa menerima segala yang digambarkan dalam anime ini. Review serial Japan Sinks: 2020 menilai penonton perlu kesiapan mental yang kuat untuk bisa menerima segala yang digambarkan dalam anime ini. (dok. Netflix via YouTube)
Jakarta, CNN Indonesia --

Butuh kesiapan mental yang kuat untuk bisa menerima segala yang digambarkan dalam serial Japan Sinks: 2020, anime perjuangan hidup-mati manusia kala bencana besar melanda.

Tak heran bila serial garapan Masaaki Yuasa ini kemudian diberi label untuk penonton dewasa atau di atas 18 tahun.

Dalam konsep animasi, serial ini sekilas memang tampak ringan dan bisa dinikmati semua umur. Apalagi dengan stigma bahwa serial kartun atau animasi bisa dinikmati semua umur. Namun hal itu tidak berlaku untuk Japan Sinks: 2020.


Serial yang diadaptasi dari novel karya Sakyo Komatsu ini mengambil fokus pada keluarga Muto yang semula menjalani kehidupan mereka seperti biasa.

Keluarga ini terdiri dari Koichiro, ayah yang bekerja sebagai teknisi. Mari, ibu rumah tangga mantan atlet renang. Kemudian kakak-adik, Ayumu yang merupakan pelari dan masih duduk di bangku SMP, serta Go si bocah pencinta gim yang masih duduk di bangku SD.

Hingga suatu hari, gempa bumi besar melanda Jepang tak lama setelah Olimpiade Tokyo 2020. Bencana itu kemudian membuat mereka terpencar.

Setelah sempat terpisah, keluarga ini beserta sejumlah orang lainnya kemudian berupaya mencari tempat teraman.

Bencana tiada henti seolah terus mengejar ke mana pun mereka pergi, berhadapan dengan hidup atau mati, hingga pilihan untuk terus bersama atau melangkah sendiri.

Mencekam

Beberapa menit sejak episode pertama dimulai, Japan Sinks: 2020 sudah menyuguhkan gambaran mencekam dari bencana besar yang terjadi.

Tiap karakter dihadapkan dengan dilema, bersikap egois demi bertahan hidup atau membantu orang lain namun mempertaruhkan nyawa.

Kehangatan memang sempat tercermin ketika keluarga Muto berhasil berkumpul setelah sempat terpisah. Namun, itu tak berlangsung lama dan berganti menjadi tekanan.

Japan Sinks 2020Japan Sinks: 2020 menggambarkan pelarian para penyintas bencana alam menghadapi berbagai takdir yang tak bisa ditebak. (dok: Netflix)

Japan Sinks: 2020 menggambarkan pelarian para penyintas bencana alam menghadapi berbagai takdir yang tak bisa ditebak.

Siapa pun bisa menjadi korban berikutnya dari berbagai kejadian yang meski mungkin tak masuk akal, namun tak mustahil pula untuk bisa terjadi. Racikan narasi itu yang membuat sulit untuk optimis cerita ini akan berakhir bahagia, seperti 'stigma' pada anime.

Gambaran setiap karakter terasa nyata dan cukup logis digambarkan. Contohnya yakni lewat Ayumu, dari yang semula idealis, ogah menikmati yang bukan miliknya, hingga akhirnya melawan ego demi tetap hidup.

Tekanan Ayumu juga datang dari perjuangannya menghadapi kepergian orang-orang terkasih dalam hidupnya akibat bencana tersebut.

Perjalanan Ayumu menggambarkan bahwa hidup adalah pilihan, melanjutkan atau terhenti hanya karena meratapi. Selain itu, meninggalkan bukan berarti harus melupakan.

Beban mental begitu terasa dengan penyesalan dan rasa bersalah yang dilalui Ayumu.

"Boleh berduka, hentikan tangisan dan lanjutkan hidup," - Mari.

Budaya Asing

Memasuki episode dua dan tiga, tombol jeda seringkali saya pilih untuk menarik nafas dan mencerna adegan yang baru terjadi. Beberapa adegan bagi saya terasa menyakitkan dan terlalu nyata.

Pertemuan satu karakter dan lainnya pun membawa sebuah pembelajaran penting, bahwa mendapatkan bantuan bukan berarti akan selalu aman, dan ancaman tak selalu berakhir sebagai kejahatan.

Hal ini terlihat ketika keluarga Muto menemukan supermarket dengan beberapa barang yang masih tersedia. Mereka terlena untuk mengambil beberapa kebutuhan kala melihat tak ada lagi orang tersisa.

Boleh berduka, hentikan tangisan dan lanjutkan hidupMari, Japan Sinks: 2020

Namun seketika pemilik toko muncul dan mengarahkan busur panah ke mereka. Mereka pun dituntut untuk tetap bisa bertahan hidup.

Sementara itu, ilmu bertahan hidup secara tak terduga muncul lewat karakter Go. Ia yang semula digambarkan hanya seorang bocah pecandu video gim justru menuai manfaat dari hobinya itu untuk bertahan hidup bersama yang lainnya.

Selain itu, kemunculan karakter Kaito atau Kite membawa harapan serta angin segar dari perjalanan para penyintas bencana ini. Hubungan antara karakter Go dan Kite ini menjadi salah satu yang menarik.

Keduanya membawa sebuah optimisme, bahwa hal yang semula dianggap sepele ternyata bisa membawa perubahan besar.

Dalam perjalanan menikmati serial anime ini, Japan Sinks: 2020 ini mengingatkan saya dengan film Survival Family dari Jepang yang rilis 2017 lalu tentang cara sebuah keluarga untuk bertahan hidup di tengah bencana.

Japan Sinks 2020Survival Family mengusung kejadian mati listrik total sedangkan di Japan Sinks: 2020 adalah karena gempa bumi dan tsunami. (dok: Netflix)

Namun yang berbeda, Survival Family mengusung kejadian mati listrik total sedangkan di Japan Sinks: 2020 adalah karena gempa bumi dan tsunami.

Meski begitu, Japan Sinks: 2020 rasanya lebih berat karena yang menjadi lawan adalah alam. Tak ada siapa pun yang bisa melawan amukan alam.

Selayaknya anime lainnya, serial ini juga memberikan gambaran budaya masyarakat Jepang secara tersirat. Terutama soal pemikiran orang tua Jepang yang meminta generasi mudanya tak terobsesi dengan budaya asing.

Hal itu mengingatkan saya akan cerita seorang teman yang bekerja di Jepang. Kala bertemu dengannya, ia pernah bercerita bahwa masyarakat Jepang -terutama yang lanjut usia- sebenarnya tertutup pada budaya asing.

Cerita teman saya itu nyatanya muncul dalam serial ini, melalui karakter pemilik toko yang sudah berusia lanjut kala mengomeli Go karena mengikuti gaya budaya asing.

Rasisme

Selain itu, isu rasisme pun turut diangkat dalam serial ini. Pada salah satu adegan, terdapat potret masyarakat yang membeda-bedakan latar belakang hanya untuk menolong.

"Hanya orang berdarah Jepang asli yang boleh ikut kapal kami," demikian ujar sekelompok orang itu.

Karena hal itu, ibu Ayumu yang berasal dari Filipina dan Go yang mirip dengannya dilarang ikut ke kapal penyelamatan. Hanya Ayumu yang diperbolehkan, karena hanya dia yang secara fisik terlihat seperti orang Jepang asli.

Namun, mereka memilih bertahan bersama, menunggu bantuan lain. Isu itu kemudian dibahas kala Ayumu berusaha menghibur diri dan meluapkan emosi dengan nge-rap.

Bicara soal pemilihan lagu, tema dan scoring untuk serial ini terasa tepat untuk beberapa momen menegangkan. Lagu pembuka serial ini terasa menenangkan, tapi itu tak menggambarkan serial secara keseluruhan.

Pada beberapa bagian gambar yang disuguhkan dalam serial animasi ini terasa begitu nyata seperti guncangan gempa bumi, gedung-gedung roboh, hingga lanskap-lanskap yang ada.

Alur yang disuguhkan cukup naik turun. Setelah dihajar dengan adegan tragis, penonton sempat dibawa pada suasana yang lebih santai di pertengahan, sebelum tensi kembali naik di akhir.

Namun, bagi saya pribadi, sejak kepergian salah satu karakter utama di episode-episode awal, sulit rasanya percaya adegan demi adegan akan berakhir baik-baik saja.

Serial Japan Sinks: 2020 terdiri dari 10 episode dengan durasi sekitar 20 hingga 30 menit. Serial untuk DEWASA ini dapat disaksikan secara streaming di Netflix.

[Gambas:Youtube]



(end)