SUDUT CERITA

Bersama Ibu Lewati Canda dan Tangis Jadi Pasien Covid-19

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 22/01/2021 19:10 WIB
Ilustrasi. Bani dan sang ibu bersama-sama dirawat di rumah sakit sebagai pasien Covid-19. (iStockphoto/cocorattanakorn)
Jakarta, CNN Indonesia --

"Dunia tidak sedang baik-baik saja ketika ibu sedang sakit."

Bani--bukan nama sebenarnya--beberapa kali menemukan kutipan kalimat itu di media sosial. Dia tak tahu juga siapa yang menuliskannya pertama kali. Namun, apa yang tersirat pada kalimat itu, dirasa persis sama dengan apa yang dirasakannya saat sang ibu dinyatakan terinfeksi virus corona penyebab Covid-19 akhir tahun lalu.

Satu minggu sebelum dinyatakan positif Covid-19, kondisi kesehatan sang ibu memang sempat menurun. Riwayat sakit lambungnya kambuh, demam sesekali, ditambah kakinya yang kian sakit karena tak absen menjalani terapi rutin akibat saraf kejepit di pinggangnya.


Tak ada makanan yang masuk.

"Kami sekeluarga berupaya agar tetap ada makanan yang masuk," tutur Bani, pada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu. Tapi, usaha itu tak berhasil juga.

Pemeriksaan dokter sementara menyatakan bahwa sang ibu terkena tifus dan lambung akut. Ragam obat, termasuk herbal, untuk memulihkan kondisi sang ibu dicoba Bani. Namun, persoalan sulit makan masih berlanjut. Efeknya, kondisi sang ibu tak kunjung membaik setelah dua hari berobat.

Tak berhenti sampai di situ. Bani dan keluarga kembali membawa sang ibu ke rumah sakit berbeda.

Sebelum menjalani perawatan, sang ibu harus menjalani tes swab RT-PCR sebagai syarat rawat inap. Hasil swab keluar 1x24 jam. Sembari menanti hasil, Bani dan keluarga memutuskan untuk menunggunya di rumah.

Singkat cerita, sang ibu ternyata dinyatakan positif Covid-19.

Mendapatkan perawatan untuk sang ibu juga bukan perkara mudah. Belok kanan-kiri birokrasi harus dilalui. Sampai akhirnya, ada satu rumah sakit yang menerima namun meminta ada satu perwakilan keluarga yang mendampingi sang ibu di rumah sakit karena keterbatasan perawat. Pihak RS, kata Bani, khawatir akan kondisi sang ibu yang lemah.

ilustrasi virus coronaIlustrasi. Bani dan sekeluarga dinyatakan positif Covid-19 pada Desember lalu. (iStockphoto/oonal)

Akhirnya, Bani-lah yang menemani sang ibu di RS. Sebelumnya, Bani harus menulis pernyataan di atas materai yang menyatakan bahwa dia dan keluarga tidak akan menuntut jika terpapar dan positif.

"Mungkin terasa aneh kalau dipikir sekarang, kok bisa, pasien Covid-19 diminta ada yang mendampingi. Tapi jujur saat itu tak terpikir segala keanehan, benak saya dan keluarga yang penting ibu segera dapat perawatan," katanya.

Begitu masuk ruang perawatan, Bani baru mengerti maksud dari petugas yang sempat meminta ada perwakilan keluarga yang mendampingi.

Menurutnya, meski perawat terus berjaga 24 jam, tapi mereka tak bisa langsung membantu ketika ada keluhan, di luar jam mereka berkeliling memeriksa.

"Sempat, tuh, ketika infusan tidak mengalir, saya coba hubungi suster beberapa kali untuk memperbaiki. Namun, anjurannya hanya mematikan, mereka enggak bisa langsung datang gitu," katanya.

Berdasar pengamatannya, jumlah perawat yang berjaga memang hanya ada dua hingga tiga orang untuk berkeliling memeriksa pada jam tertentu. Sementara yang ia ketahui ada 60 pasien Covid-19 yang sedang dirawat di rumah sakit tersebut.

Belum lagi, perawat harus mengenakan alat pelindung diri (APD) lebih dulu sebelum memeriksa pasien.

"Kalau melihat repotnya mereka, pakai APD yang pengap gitu, ya, akhirnya kita paham juga karena mereka pun capai pasti," katanya.

Canda dan Tangis Pasien Covid-19

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK