Cuplikan Wawancara soal Korupsi dan Harta Lima Capim KPK
Aghnia Adzkia | CNN Indonesia
Minggu, 30 Agu 2015 10:53 WIB
Menurut catatan CNN Indonesia, dalam rentang tiga hari, sedikitnya lima orang kandidat ditanya soal kepemilikan hartanya, penggunaan uang negara, atau dugaan kasus tindak pidana korupsi.
Mereka adalah mantan Direktur Pengawasan Internal KPK, Chesna Fizetty Nawar, Mayjen TNI Purnawirawan Hendradji Soepanji, Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Asshiddiqie, mantan Direktur Eksekutif Foundation Nina Nurlina, dan staf ahli Badan Intelijen Negara (BIN) Thony Saut Situmorang.
Berikut cuplikan proses wawancara lima kandidat:
3. Jimly Asshiddiqie
Sementara itu, kisah lain datang dari Jimly. Ia ditengarai memanfaatkan uang negara untuk penyewaan rumah dinas saat dirinya menjadi mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang nilainya tak wajar.
"Anda dapat fasilitas rumah dinas saat jadi ketua MK di Pondok Indah dan harga sewa Rp 120 juta per tahun padahal ada rumah dinas yang sudah disediakan? Hak atau gimana?" tanya pansel Enny Nurbaningsih saat wawancara.
Menjawab pertanyaan Enny, Jimly santai. Ia bercerita, rumahnya sedang direnovasi dan rusak. Lima tahun pun ia tak menghuni rumah tersebut. "Lalu ada rumah dinas tapi ada aturan rumah dinas 3 bulan dan tidak gampang (mengurusnya). Jadi harus ada rumah ketiga," katanya. Alhasil, ia menganggap kemewahan yang didapat sebagai ketua MK pun tak jadi masalah.
Mereka adalah mantan Direktur Pengawasan Internal KPK, Chesna Fizetty Nawar, Mayjen TNI Purnawirawan Hendradji Soepanji, Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Asshiddiqie, mantan Direktur Eksekutif Foundation Nina Nurlina, dan staf ahli Badan Intelijen Negara (BIN) Thony Saut Situmorang.
Berikut cuplikan proses wawancara lima kandidat:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, kisah lain datang dari Jimly. Ia ditengarai memanfaatkan uang negara untuk penyewaan rumah dinas saat dirinya menjadi mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang nilainya tak wajar.
Prof. DR. Jimly Asshiddiqie saat tahap akhir wawancara calon pimpinan KPK di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa, 25 Agustus 2015. (CNN Indonesia/ Safir Makki) |
Menjawab pertanyaan Enny, Jimly santai. Ia bercerita, rumahnya sedang direnovasi dan rusak. Lima tahun pun ia tak menghuni rumah tersebut. "Lalu ada rumah dinas tapi ada aturan rumah dinas 3 bulan dan tidak gampang (mengurusnya). Jadi harus ada rumah ketiga," katanya. Alhasil, ia menganggap kemewahan yang didapat sebagai ketua MK pun tak jadi masalah.
Cuplikan Wawancara soal Korupsi dan Harta Lima Capim KPK
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
Prof. DR. Jimly Asshiddiqie saat tahap akhir wawancara calon pimpinan KPK di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa, 25 Agustus 2015. (CNN Indonesia/ Safir Makki)