Analisis

Gagap Urus Pandemi dan Cemas IDI RI Episentrum Corona Dunia

CNN Indonesia | Sabtu, 19/09/2020 13:13 WIB
Epidemiolog merespons Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang menyebut RI akan menjadi episentrum Covid-19 dunia jika tak ada perubahan. Ilustrasi Covid-19 di Indonesia. (AP/Anupam Nath)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan baru saja menerapkan Penerapan Sektor Berskala Besar (PSBB) Jilid II pada 14 September lalu. PSBB ini untuk menekan angka kasus Covid-19 yang terus menanjak dan belum da tanda-tanda penurunan di Jakarta.

Sampai hari (18/9), total jumlah kasus Covid-19 mencapai  236.519 kasus. Dari jumlah itu 170.774 dinyatakan sembuh dan 9.336 meninggal dunia. Jumlah kasus harian pada  18 September ini mencapai 3.891 kasus positif. Sementara rekor tambahan harian tertinggi terjadi pada 16 September sebanyak 3.963.

Tak hanya itu, hingga Kamis (17/9) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat 117 dokter meninggal akibat Covid-19. Kematian tenaga kesehatan disebut IDI bisa mempengaruhi kualitas layanan kesehatan.


Di sisi lain, Ketua Tim Mitigasi PB IDI, Adib mengatakan Indonesia belum mencapai puncak pandemi Covid-19 gelombang pertama. Menurutnya, Indonesia akan menjadi episentrum Covid-19 dunia jika tak ada perubahan.

Apabila benar ini terjadi, maka Indonesia akan menjadi episentrum setelah sekitar enam bulan mengalami pandemi Covid-19. Ahli Epidemiologi Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan setuju dengan kekhawatiran Indonesia bisa menjadi episentrum Covid-19.

Peningkatan jumlah kasus sesungguhnya tak melulu menjadi kabar buruk selama tak diiringi dengan peningkatan jumlah kematian, dan peningkatan beban di fasilitas kesehatan yang membuat faskes bisa tak mampu lagi menampung pasien Covid-19.

Sayangnya di Indonesia peningkatan kasus diiringi dengan angka kematian tinggi dan peningkatan beban kapasitas fasilitas kesehatan.

"Kalau ini dibiarkan memang Indonesia akan jadi episentrum. Saya setuju kekhawatiran Indonesia bisa jadi episentrum," kata Dicky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (18/9).

Dicky mengungkapkan peningkatan kasus Covid-19 tak selalu kabar karena bisa menandakan bahwa pemerintah mampu mendeteksi pasien Covid-19 sehingga meningkatkan peluang untuk mengendalikan Covid-19.

Kasus Covid-19 bisa jadi kabar baik apabila tak diiringi dengan peningkatan jumlah kematian dan beban faskes.

"Pengendalian kita itu kan tergantung berdasarkan kemampuan mendeteksi orang itu, mencegah orang membawa virus," kata Dicky.

Oleh karena itu, Dicky mengatakan PSBB menjadi intervensi yang mampu menolong pemerintah untuk meningkatkan kecepatan pengendalian Covid-19 yang balapan dengan penularan Covid-19.

"Sehingga perlu strategi tambahan seperti PSBB total, untuk menyamakan kecepatan kita sehingga tidak lagi banyak kematian dan tidak membebankan RS," tutur Dicky.

Dicky mengakui tingginya angka kematian dokter akan meningkatkan beban terhadap layanan kesehatan. Ketersediaan tenaga kesehatan bisa tak mencukupi beban yang terus meningkat. Ujungnya angka kematian akan terus meningkat.

"Di mana angka kematian bisa tambah tinggi. Angka penyakit tenaga kesehatan juga memengaruhi beban layanan kesehatan. Sebab kalau dokter sakit, dia tidak boleh melayani pasien," kata Dicky.

Potensi Indonesia menjadi episentrum kasus Covid-19 sesungguhnya telah disinggung sejak jumlah kasus positif di Indonesia telah menyalip China pada pertengahan Juli lalu.

Dicky saat itu mengatakan pemerintah harus mewaspadai hal tersebut, sebab Indonesia berpotensi menjadi episentrum Covid-19 di Asia.

"Dengan eskalasi pertambahan eksponensial yang akan menyentuh 100 ribu, dan kapasitas testing dan tracing di berbagai daerah yang belum meningkat, maka potensi kita jadi episentrum baru di Asia bisa terjadi," kata Dicky

Pernyataan dari Dicky tersebut dikarenakan jumlah tes di Indonesia masih terlampau sangat jauh dibandingkan China. Sehingga ia mengatakan masih banyak kasus positif Covid-19 yang belum terdeteksi.

"Yang harus jadi perhatian dan waspada adalah perbedaan yang sangat jauh dalam kapasitas testing tracing kita dan China.
Dengan jumlah kasus yang hampir sama, kita baru melakukan tes pada orang sekitar 700 ribu. Sedangkan China hampir 90 juta," kata Dicky.

Dicky juga mengungkap angka positive rate di atas 10 persen. Hal ini semakin meyakinkan Dicky bahwa masih banyak kasus Covid-19 yang belum terdeteksi. Positive rate adalah jumlah tes positive dibagi jumlah total test.

"Idealnya positive rate ada di rentang 3 persen sampai 5 persen," kata Dicky.

Lebih lanjut, Dicky menyarankan agar pemerintah meningkatkan uji tes menjadi 100 ribu per hari. Hal ini dilakukan pemerintah bisa mempercepat pendeteksian Covid-19 dan langsung melakukan penanganan dengan cepat.

"Kita harus mengejar ketertinggalan Kita dari virus SARS-CoV-2," kata Dicky.

Dicky mengingatkan Indonesia sempat menjadi episentrum pandemi Flu Burung (H5N1). Ia mengatakan Covid-19 berbeda dengan Flu Burung karena sulit terdeteksi. Oleh karena itu ia terus mengingatkan agar test dan tracing terus ditingkatkan oleh pemerintah.

Di sisi lain, proyeksi machine learning di situs Covid-19 Projections menujukan kurva kasus Covid-19 yang terus menanjak. Bahkan Chief of Infectious Diseases di University of Maryland Upper Chesapeake Health, Faheem Younus juga mencuitkan soal buruknya proyeksi kasus Covid-19 di Indonesia.

Machine learning memprediksi akan ada kasus konfirmasi positif Covid-19 sebanyak 359,205 pada 1 November 2020.

Berdasarkan prediksi itu, Younus mencuitkan hasil proyeksi kasus Covid-19 di Indonesia melalui akun Twitternya @FaheemYounus. Dalam cuitannya ia menyarankan agar pemerintah melakukan tes, tracing dan isolasi sebelum terlambat.

Menanggapi hal ini, Ahli Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika mengatakan machine learning itu bergantung pada kualitas data yang dikumpulkan. Semakin akurat data yang dikumpulkan, maka semakin akurat pula prediksi oleh machine learning.

Ketika ditanya soal potensi Indonesia menjadi episentrum Covid-19 baru di Asia, Laura mengatakan masih ada India dengan angka positif Covid-19 mencapai 2.153.010.

Akan tetapi ia mengatakan Indonesia perlu waspada terkait jumlah kasus yang terdeteksi di Indonesia. Sebab Laura mengatakan masih ada keterbatasan pengujian di lapangan yang membuat angka tidak akurat dengan angka yang sesungguhnya.

"Tetapi memang yang perlu diwaspadai bahwa apakah jumlah data di Indonesia sekarang sudah menunjukkan data yang sesuai apakah tidak ada keterbatasan pemeriksaan yang membuat datanya menjadi tidak real yang ada di lapangan," kata Laura.

Kebijakan Covid-19 di Indonesia

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2