Suriah Menangis Destinasi Bersejarah Dirusak & Dijarah ISIS

CNN Indonesia | Selasa, 09/03/2021 11:15 WIB
Selain membantai manusia, ISIS ternyata juga rajin merusak museum lalu mencuri artefaknya. Keuntungannya mencapai jutaan dolar AS. Kuil Bel di Suriah yang sudah punah dari tanah karena dirusak dan dijarah ISIS. (AFP PHOTO / JOSEPH EID)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perang selama satu dekade tidak hanya meluluhlantakkan Suriah di hari ini, tapi juga Suriah di masa depan, karena banyak bangunan bersejarah di sana yang hancur lebur.

Suriah adalah surga bagi arkeolog, warisan dunia yang menjadi rumah bagi beberapa permata peradaban kuno tertua di dunia.

Konflik yang meletus pada tahun 2011 bisa dibilang yang terburuk di abad ke-21 sejauh ini dalam kasus kemanusiaan, dan juga kasus penghilangan sejarah.


Dalam beberapa tahun, situs arkeologi rusak, museum dijarah, dan pusat kota tua diratakan.

Berdiri di depan artefak yang dipugar di museum Palmyra yang ia jalankan selama 20 tahun, Khalil al-Hariri ingat trauma harus melarikan diri dari rumahnya saat Suriah jatuh ke tangan apa yang disebut kelompok Negara Islam (ISIS).

"Saya telah menjalani banyak hari yang sulit. Kami dikepung beberapa kali di museum," katanya, menceritakan bagaimana dia dan timnya melarikan diri paling akhir untuk mengangkut artefak ke tempat yang aman.

"Tapi hari tersulit dalam hidup saya adalah hari ketika saya kembali ke Palmyra dan melihat barang antik yang rusak dan museum itu amburadul," kata Hariri, kini berusia 60 tahun.

"Mereka menghancurkan semua wajah patung yang tersisa di museum dan yang tidak dapat kami selamatkan. Beberapa di antaranya dapat dipulihkan, tetapi yang lain telah hancur total."

Venesia di gurun pasir

Palmyra adalah kota kuno yang megah yang pengaruhnya memuncak menjelang akhir kekaisaran Romawi dan terkenal diperintah oleh Ratu Zenobia pada abad ke-3.

Tiang tiang sepanjang sekitar satu kilometer itu terlihat unik dan mengesankan, sehingga menjadi salah satu bangunan paling terkenal di Suriah.

Ketika para jihadis ISIS datang ke Palmyra pada Mei 2015 untuk memperluas "kekhalifahan" yang mereka nyatakan di beberapa bagian Suriah dan Irak setahun sebelumnya, kerusakan dimulai dan terus meluas.

Kemegahan dan kehebatan arsitektur Palmyra dijadikan lokasi kebiadaban ISIS membunuh orang-orang yang menentangnya.

Situs tersebut menjadi panggung untuk eksekusi publik dan kejahatan mengerikan lainnya, beberapa di antaranya difoto dan didistribusikan dalam propaganda ISIS.

Tubuh tanpa kepala kepala arkeolog Khaled al-Asaad juga ditampilkan di sana oleh antek ISIS yang telah menyiksanya untuk membuatnya buka suara mengenai lokasi artefak-artefak situs tersebut telah dipindahkan.

Dengan sadar melakukan genosida pada budaya mereka, para jihadis merusak Kuil Baal Shamin yang terkenal di Palmyra lalu meledakkannya.

Mereka juga menghancurkan Kuil Bel, meledakkan Arch of Triumph, menjarah dari museum serta merusak patung dan sarkofagus yang terlalu besar untuk dicuri.

Penjarahan kota kuno yang dijuluki "Venesia di Gurun Pasir" ini mirip dengan penghancuran Bamiyan Buddha oleh Taliban di Afghanistan pada tahun 2001.

Pada saat pasukan pemerintah merebut kembali kendali Palmyra pada tahun 2017, kota bersejarah itu telah rusak secara permanen.

ISIS Punya Departemen Jual Beli Artefak Curian

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK